Etika Menerima Informasi

Oleh Tsamrotul AM

Di era modern seperti ini kita tidak bisa lepas dari derasnya arus informasi baik dari media cetak maupun elektronik, apalagi yang aktif di sosial media atau jejaring sosial. Informasi akan sampai kepada kita dengan mudah dan cepat untuk menyebarkannya. Dan karena penyebaran informasi tak kenal waktu dan juga tak kenal pelaku. Maka tak pelak dari informasi tersebut isinya beragam, mulai dari informasi yang factual sampai informasi bohong (hoax), iklan sampai da’wah, ilmu pengetahuan sampai bualan, aspiratif sampai provokatif.

Informasi atau berita atau ilmu pengetahuan menduduki penentu dalam kehidupan manusia didunia karena informasi yang diterima manusia dari manapun datangnya, akan menjadi pengetahuan dan pemahamannya, selanjutnya akan membentuk pola pikir hingga menjadi keyakinan, yang mempengaruhi pola hidup manusia dalam mengambil keputusan, bersikap, berakhlak (bermoral) dan sebagainya. Jika yang diyakini benar, syukur alhamdulillah. Jika yang diyakini salah bisa menjadi malapetaka bagi dirinya, keluarga, bahkan bagi bangsa dan negaranya.

Informasi yang diterima dari orang lain, tanpa mengetahui sendiri dapat disebut taqlid. Sedangkan informasi yang diketahui dari pengetahuan diri sendiri dapat disebut ma’rifah. Baik informasi dari orang lain maupun dari diri sendiri dapat menjadi keyakinan yang kuat yang bisa mempengaruhi pola hidup manusia. Karena itulah harus hati-hati. Korektif dan selektif dalam menerima dan menyebar suatu informasi.

Seorang manusia akan lebih mudah percaya akan suatu informasi yang disampaikan oleh orang yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi, seperti halnya pemuka agama, karna hampir semua manusia yang beragama, fanatik dengan pemuka agama, terlebih lagi ia biasa bicara dengan menggunakan teks keagamaan. Seolah-olah pemuka agama tersebut sudah mutlak benar, sehingga sebagai manusia yang mempunyai jabatan dibawahnya, menerima informasi yang disampaikan oleh pemuka agama tersebut tanpa diteliti, tanpa difikir, langsung diterima dan ditelan mentah-mentah, hal ini biasa disebut dengan ‘taqlid buta’.

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE (akademisi Muslim asal Indonesia) berpendapat bahwa penyebab umat islam mengalami masa kemunduran/kejumudan/

sedaknasi diantaranya adalah karna meningkatnya sektarianisme dan fanatisme mazhab/aliran. Dan diantaranya juga karna diharamkannya berfikir secara rasional/logis/filosofis banyak diantaranya orang yang berfikir rasional dianggap orang yang mengesampingkan ayat alqur’an mengesampingkan wahyu. Menurutnya pemikiran rasional dan wahyu itu bisa berjalan sejajar.

Banyaknya informasi yang datang kepada kita. Menjadikan kita lebih banyak kemungkinan terjatuh kepada suatu pemahaman yang salah, sehingga mempengaruhi pola hidup kita. Tentu saja informasi bisa mempengaruhi siapa saja, namun pengaruh tidak akan mempengaruhi diri kita, jika kita tidak mengizinkan pengaruh tersebut masuk ke dalam diri kita. Namun seberapa kuatkah benteng kita agar tidak terpengaruh dari informasi yang datang?? Untuk itu kita semua semestinya berdoa kepada Alloh agar senantiasa dimasukan kedalam golongan orang yang benar, dan selamat dari informasi yang salah.

Apabila ada informasi yang datang kepada kita dari mana saja datangnya, maka sebaiknya kita selalu meneliti, selalu berfikir termasuk informasi yang disampaikan oleh pemuka agama maupun informasi dari Al-Qur’an (Firman Alloh) sekalipun. Dengan meneliti dulu, dengan berfikir dulu, bukan berarti kita tidak percaya atau ragu, tapi agar kita lebih faham, yang selanjutnya akan lebih yakin. Dalam Al Qur’an sendiri ditemukan tidak kurang dari 130 kali tentang perintah Alloh untuk berfikir dan tentang kehinaan orang yang tidak mau berfikir. Berfikir disini maksudnya adalah melakukan suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini semua yang ada didunia ini, untuk mendapatkan keyakinan kepada Alloh. Sehingga menjadikan kita lebih bersyukur dan taat kepada Alloh. Selain itu berfikir juga untuk mensyukuri adanya nikmat aqal yang diberikan oleh Alloh Ta’ala kepada kita.

Terhadap suatu informasi semestinya kita tidak langsung menolak atau pun menerima. Karena apabila langsung ditolak, sedangkan isi informasi itu benar, berarti kita menolak datangnya kebenaran. Apabila kita langsung menerima, sedangkan informasi itu dusta, berarti kita menelan kesalahan atau kedustaan. Karena itulah kita dilarang mempunyai sifat hirsun (tergesa-gesa tanpa pertimbangan). Untuk itu terhadap semua berita yang datang kepada kita, hendaknya kita meneliti dari mana datangnya informasi, pembawa informasi itu bisa dipercaya atau tidak, kalau dari media cetak atau media elektronik, itu milik siapa atau milik kelompok apa. Kira-kira beritanya tendensius apa tidak. Begitu pula terhadap isi informasi tersebut. Untuk mengetahui benar tidaknya cari perbandingan dari media atau sumber yang lain, beritanya logis apa tidak. Dan sebagainya.

Dalam Alqur’an surat Alhujurot ayat 6 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka periksalah berita itu dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Sebab turunnya ayat ini diceritakan oleh Imam Ahmad, berawal dari utusannya Al Walid Bin Uqubah untuk mengambil zakat kepada suku Bani Mustholiq, yang mana antara keduanya (Al Walid dengan suku tersebut pernah bermusuhan, ketika Al Walid baru sampai, tampak dari kejauhan banyak orang yang berlari ke arahnya, dan dikira oleh Al Walid akan membunuhnya, karena dulunya pernah bermusuhan. Maka larilah Al Walid kepada Rosululloh dan mengatakan kalau suku Bani Mustholiq tidak mau membayar zakat, bahkan mau membunuhnya. Mendengar laporan seperti itu, Rosululloh tidak serta merta membenarkannya. Tapi melakukan kroscek, maka diutusnyalah Al Walid untuk menyelidiki kabar tersebut. Setelah diselidiki ternyata Alwalid salah paham terhadap suku Bani Mustholiq, banyak orang lari mendatanginya, sebenarnya untuk menyambut dan berniat akan membayar zakat bukan untuk membunuhnya.

Dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 11 ” sesungguhnya orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga, janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu, tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” Sebab turunnya ayat tersebut adalah ketika Rosululloh SAW menghadapi isu perselingkuhan Aisyah RA. selingkuh dengan Shofwan bin Al Mu’aththol, Rosululloh diam dan tidak menanggapinya sambil menunggu petunjuk dari Alloh, perihal masalah tersebut. Karena lama wahyu belum turun, beliau meminta pendapat para shohabat yang mana para shohabat itu ada yang menyarankan untuk menceraikannya, juga ada yang menyarankan untuk mempertahankannya dan tidak usah menghiraukan perkataan para musuh islam. Dan mengenai kisah sebenarnya, berawal dari sekembalinya suatu peperangan rombongan Aisyah RA berhenti pada suatu tempat. Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali, tiba-tiba merasa bahwa kalungnya hilang, lalu pergi lagi mencarinya, sementara itu rombongan berangkat dengan sangkaan bahwa Aisyah RA masih ada dalam sekedup. Setelah Aisyah tahu kalau rombongannya berangkat, dia duduk ditempatnya dan mengharapkan rombongannya tahu kalau Aisyah tertinggal. Disaat menunggu itulah lewat shohabat Shofwan Bin Al Mu’aththol dan begitu melihat Ummul Mukminin sedang tertidur dipinggir jalan. Maka mengucapkanlah “Inna lillahi wainna ilaihi rojiuun” Aisyah pun terbangun dan menceritakan apa yang telah terjadi, kemudian oleh Shofwan dipersilahkan Aisyah untuk mengendarai ontanya, sedangkan Shofwan berjalan menuntun ontanya. Dari situlah muncul desas-desus tentang perselingkuhan Ummul Mukminin yang tidak terelakkan.

Dari kisah diatas semestinya kita bisa mengambil Ibroh. Dari kisah hidup Rosululloh dalam menerima berita yang disampaikan oleh orang lain. Selain itu ada kisah pemuda Ibrohim yang diabadikan dalam Alquran surat Al-An’am ayat 74 sampai dengan 90. Yaitu ketika menghadapi arus masyarakat, termasuk ayahnya sendiri yang menyembah berhala. Beliau mengadakan penelitian, menganalisis, mengadakan uji coba, membuat hipotesa-hipotesa dan senantiasa siap melakukan koreksi jika menemukan kesalahan. Dengan begitu nabi Muhammad SAW dan nabi Ibrohim A.S adalah sosok intelektual sejati dalam upaya menemukan kebenaran. Lantas apakah kita yang hidup sebagai manusia biasa mesti taqlid buta? Dengan mengatakan bahwa apa yang kita yakini itu sudah mutlak benar. Bukankah tidak ada kebenaran yang mutlak kecuali Alloh ?

Untuk menghadapi informasi yang terpenting diantara kita tidak usah saling menyalahkan, mengoblok-goblokan, apalagi mengkafir-kafirkan kepada orang yang tidak sependapat,  sebaiknya juga kita mengerti dasar-dasar dan reverensi orang yang tidak sependapat. Dalam perbedaan pendapat sendiri yang terpenting adalah punya dasar, bukan karena tidak suka atau tidak mau menerima pendapat orang lain.

Sumpah Pemuda; Dimensi Politik Kebangsaan Kata Indonesia

Oleh Tsamrotul AM

Dua ribu tahun yang lampau, Tanah air kita disebut “Jawa Dwipa” sebagaimana tersebut dalam kitab Ramayana yang dikarang oleh Rakawi Walmiki. Dalam bahasa Kawi-Sansekerta, tanah air kita dinamakan “Dwipantara” kemudian Majapahit menyebutnya sebagai “Nusantara”. Eduard Douwes Dekker, yang dikenal dengan nama samaran Multatuli menamakan tanah air kita “Insulindi”. Sedangkan nama yang terakhir untuk negeri yang kita tempati adalah “Indonesia”, nama tersebut diberikan oleh James Richard Logan yang berasal dari inggris, pada tahun 1850, hal ini disebutkan oleh Mohammad Hatta dalam bukunya yang berjudul nama Indonesia. Dinamakan Indonesia karena terletak dibelakang pegunungan Indos.

Mengutip dari Wikipedia, Kaum pribumi yang pertama kali menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat terkenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara. Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch maksudnya adalah pelafalan bahasa Belanda untuk mengungkapkan kata Indonesia. juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven pada tahun 1917. Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan Indonesier (orang Indonesia).

Pada sekitar tahun 1920, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan James Richard Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka yang bernama Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka .

Mohammad Hatta menegaskan dalam tulisannya “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staa) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. ”

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Pada tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan National Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Selanjutnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kongres  Pemuda kedua tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda,

Kongres Pemuda kedua berawal dari Kongres Pemuda pertama yang diselenggarakan pada tanggal 30 April sampai  2 Mei 1926. Selanjutnya kongres Pemuda kedua diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928. Pada kongres Pemuda dihadiri perwakilan organisasi pemuda yakni Jong Java, Jong Sumatranen bond, Jong bataks Bond, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond, Perhimpunan Indonesia, Pemuda Indonesia, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Pada kongres Pemuda Kedua diketuai oleh Soegondo Djojopoespito (PPPI) Wakil Ketua oleh R.M Djoko Marsaid (Jong Java), Sekretaris oleh Muhammad Yamin (Jong Sumatranen Bond). Bendahara oleh Amir Syafruddin (Jong Bataks Bond). Pembantu oleh Djohan Mohammad Tjaja (Jong Islamieten Bond), R. Katja Soengkana (Pemuda Indonesia), R. C. L. Senduk (Jong Celebes), Johannes Leimana (Jong Ambon), Rochjani Soe’oed (Pemuda Kaoem Betawi).

Kongres Pemuda kedua terdiri dari tiga rapat, yang diselenggarakan di tiga gedung yang berbeda, hal ini adalah inisiatif PPPI.

Rapat pertama disenggarakan pada tanggal 27 Oktober 1928, di gedung Khatolieke Jongenlingen Bond (KJB).

Soegondo membuka rapat dan memberi salam, Soegondo menyampaikan pidato yang berisi tentang sejarah perkembangan organisasi pergerakan nasional sejak terbentuknya Boedi Utomo sampai Kongres Pemuda Kesatu, perbedaan Kongres Pemuda Kesatu dan Kongres Pemuda Kedua, serta permintaannya kepada pembicara dan peserta agar tidak membicarakan hal-hal yang berbau politik demi kelancaran penyelenggaraan kongres. selanjutnya ia mempersilahkan peserta untuk menyampaikan pidato.

Dr. Mohammad Amir berpidato yang isinya mengucapkan selamat atas penyelenggaraan kongres, ketika pidatonya sudah menyangkut kemerdekaan ia mendapat peringatan dari ketua kongres agar kata kemerdekaan tidak dipakai, walaupun kata kemerdekaan dilarang yang terpenting peserta kongres tahu sama tahu saja.

Muhammad Yamin berpidato dengan judul persatuan dan kesatuan, ia mengulas tentang pentingnya persatuan kebangsaan, ia juga menghimbau kepada para wanita untuk menanamkan semangat kebangsaan kepada anaknya. Pidato muhammad Yamin mendapat tanggapan dari berbagai pemuda diantaranya:

Inoe Martakoesoema, menyampaikan pendapatnya bahwa persatuan jangan hanya dibicarakan, tapi harus meresap dalam hati sehingga mendarah daging.

Ma’moen ar Rasjid mengusulkan agar Kongres Pemuda disatukan dengan “de nieuwen van Indie”

S.M. Kartosoewirjo membicarakan kedudukan bahasa asing sebagai bahasa pergaulan internasional, dan bahasa Indonesia harus menjadi penghubung dalam persatuan pemuda.

Siti Soendari membicarakan untuk menanamkan perasaan cinta tanah air, terutama di kalangan wanita, dan harus menanamkan sejak kecil.

Rapat kedua diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928, di gedung Oost-Java Bioscoop. Pada rapat kedua membahas tentang pendidikan.

Mej Purnomowoelan berbicara tentang pendidikan anak, dan pendidikan Indonesia masih banyak yang harus dibenahi.

Sigit mengungkapkan bahwa pendidikan anak menurut aturan kebangsaan. Menurutnya ada 5 yaitu : 1. Interaksi. 2. Banyak membaca.  3. Organisasi Pemuda. 4. Sekolah berasrama. 5. Keharmonisan keluarga.

Penjelasannya nomor lima, menurutnya kesalahan pendidikan di Indonesia adalah beranggapan bahwa derajat perempuan dibawa laki-laki dan kebiasaan memanjakan anak.

Anta Permana bicara tentang kawin paksa, kawin di bawah umur, dan poligami.

Sarmidi Mangoensarkoro berbicara tentang pendidikan anak di rumah. Sebaiknya meniru pendidikan model Taman Siswa.

Rapat ketiga diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928, digedung Indonesische Clubgebouw, Kramat Raya No 106 . Rapat ketiga adalah rapat putusan Kongres Pemuda kedua. Sebelum putusan kongres dibacakan, terlebih dahulu diperdengarkan pertama kali lagu Indonesia Raya gubahan Wage Soepratman. Yang diiringi gesekan biola. Dengan semangat Wage Soepratman memperdengarkan lagu tersebut. Dan disambut sangat antusias oleh semua peserta kongres, Soepratman menerima ucapan selamat dan pelukan para hadirin. selanjutnya adalah pembacaan hasil kongres, hasil perumusan berdasarkan pokok-pokok pikiran yang berkembang dalam kongres. Oleh para utusan dari organisasi pemuda yang hadir, rumusan itu sebagai tanda sumpah setia dan pengabdian kepada satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yakni Indonesia. Berikut bunyi sumpahnya :

Pertama

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA.

Kedua

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

Ketiga

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA PERSATUAN BAHASA INDONESIA.

Dari sini kita ketahui Peristiwa  Sumpah Pemuda adalah bagian dari dimensi politik kebangsaan kata Indonesia. Dengan diikrarkannya  Sumpah Pemuda, para pemuda bersatu, menjadi pendorong semangat untuk mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan pada tanggal 18 Agustus 1945 kata Indonesia resmi menjadi nama suatu negara yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia***

 

 

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Al-kautsar edisi 137. 15 Muharom 1439 H / 6 Oktober 2017 M.